Analisisi Prediktor Pelaku Dan Korban Bullying Di SD Negeri 71, SD Negeri 82, Dan SMP Beer Seba Kota Pekanbaru
Quick Access
Institutional Metadata
Abstract
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat dalam kurun waktu 9 tahun, dari 2011 sampai 2019, ada 2.473 laporan kejadian bullying di dunia pendidikan. Adapun kasus perundungan di lingkungan sekolah paling banyak terjadi di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan proporsi 25% dari total kasus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prediktor pelaku dan korban bullying di SD Negeri 71, SD Negeri 82, dan SMP Beer Seba Kota Pekanbaru. Metode yang digunakan adalah pendekatan cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 212 siswa yang dilakukan pada 13-31 Mei 2024. Instrumen yang digunakan adalah multidimensional peer-victimization scale-24 (MPVS—24), buss perry aggression questionnaire (BPAQ), dan parental authority quistionare (PAQ) yang sudah dilakukan uji validitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua tidak memiliki hubungan dengan perilaku agresif (p value = 0,18 ≤ α) dan pola asuh orang tua tidak memiliki hubungan dengan perilaku bullying (p value = 0,12 ≤ α). Penelitian ini merekomendasikan agar sekolah bisa untuk mengimplementasikan program pencegahan bullying di SD Negeri 71, SD Negeri 82, dan SMP Beer Seba Kota Pekanbaru dengan membentuk satgas bully. Pencegahan yang dapat dilakukan dengan memberi nasihat kepada siswa tentang bahayanya perilaku bullying dan kerugian yang ditimbulkan. Guru perlu bekerjasama dengan wali siswa untuk menyelesaikan kasus bullying yang serius.
The Indonesian Child Protection Commission (KPAI) recorded that in a period of 9 years, from 2011 to 2019, there were 2,473 reports of bullying incidents in the world of education. Most cases of bullying in the school environment occur in elementary schools and junior high schools with a proportion of 25% of the total cases. This research aimed to determine the predictors of perpetrators and victims of bullying at Elementary School Negeri 71, Elementary School Negeri 82, and Junior High School Beer Seba, Pekanbaru City. The method was a cross-sectional approach with 212 students as respondents, conducted on 13-31 May 2024. The instruments used were a multidimensional peer-victimization scale-24 (MPVS-24), Buss Perry Aggression Questionnaire (BPAQ), and parental authority questionnaire (PAQ) which has been tested for validity. The results of the research show that parenting patterns have no relationship with aggressive behavior (p- value = 0.18 ≤ α) and parenting patterns have no ties with bullying behavior (p- value = 0.12 ≤ α). This research recommends that schools implement bullying prevention programs at SD Negeri 71, SD Negeri 82, and SMP Beer Seba, Pekanbaru City by forming a bullying task force. Prevention can be done by advising students about the dangers of bullying behavior and the losses it causes. Teachers need to work together with students' guardians to resolve serious bullying cases.