Asuhan Kebidanan Masa Nifas Pada Ny. W Dengan Penerapan Pijat Oksitosin Untuk Memperlancar Asi Di Pmb Henni Afrina
Quick Access
Institutional Metadata
Abstract
Latar belakang: Produksi ASI yang tidak lancar merupakan salah satu kendala utama dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu nifas. Faktor-faktor seperti kurangnya istirahat, asupan nutrisi yang tidak seimbang, hidrasi yang tidak cukup, serta teknik menyusui yang tidak tepat dapat menghambat pengeluaran ASI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan asuhan kebidanan masa nifas dengan menerapkan pijat oksitosin pada Ny. W guna memperlancar produksi ASI. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan SOAP. Intervensi berupa pijat oksitosin dilakukan dua kali sehari selama enam hari, disertai edukasi teknik menyusui yang benar, peningkatan nutrisi dan cairan, serta pelibatan suami dalam praktik pijat oksitosin. Hasil menunjukkan bahwa pada hari ke-5 nifas, terjadi peningkatan produksi ASI yang ditandai dengan rembesan ASI spontan, bayi tampak puas menyusu, suara menelan terdengar jelas, dan frekuensi menyusui meningkat menjadi ≥10 kali/hari. BAK bayi ≥8 kali/hari dan BAB ≥3 kali/hari. Pengetahuan suami meningkat dari 40% menjadi 100%, dan keterampilan pijat oksitosin dari 54,7% (kategori pemula) menjadi 85,7% (kategori menengah). Kesimpulan: Pijat oksitosin efektif dalam memperlancar produksi ASI bila dilakukan rutin dan melibatkan peran keluarga. Saran: Intervensi ini dapat dijadikan terapi komplementer
Background: Inadequate breast milk production is one of the main obstacles to the success of exclusive breastfeeding in postpartum mothers. Factors such as lack of rest, unbalanced nutritional intake, insufficient hydration, and improper breastfeeding techniques can inhibit breast milk production. The purpose of this study was to provide postpartum midwifery care by applying oxytocin massage to Mrs. W to facilitate breast milk production. The method used was a case study with a SOAP approach. The intervention in the form of oxytocin massage was carried out twice a day for six days, accompanied by education on correct breastfeeding techniques, increased nutrition and fluids, and the involvement of the husband in the practice of oxytocin massage. The results showed that on the 5th day of postpartum, there was an increase in breast milk production as indicated by spontaneous breast milk leaks, the baby seemed satisfied with breastfeeding, swallowing sounds were clearly audible, and the frequency of breastfeeding increased to ≥10 times/day. The baby urinated ≥8 times/day and defecated ≥3 times/day. Husbands' knowledge increased from 40% to 100%, and oxytocin massage skills increased from 54.7% (beginner) to 85.7% (intermediate). Conclusion: Oxytocin massage is effective in increasing breast milk production when performed regularly and involving the family. Recommendation: This intervention can be used as a complementary therapy in postpartum midwifery practice to support exclusive breastfeeding.