Asuhan Kebidanan Pada Ny. M Dengan Bendungan Asi di PMB Hj Winalti, SST
Quick Access
Institutional Metadata
Abstract
Bendungan ASI merupakan salah satu masalah umum pada masa nifas yang terjadi akibat tidak optimalnya pengeluaran ASI, sehingga menyebabkan nyeri, pembengkakan, dan ketegangan pada payudara. Menurut WHO (2019) sekitar 87,05% ibu nifas diamerika mengalami bendungan ASI. Di indonesia cakupan pemberian ASI ekslusif tahun 2023 mencapai 63,9%, namun provinsi riau hanya mencapai 44,5%, masih dibawah target nasional sebesar 50%. Studi kasus ini bertujuan untuk memberikan asuhan kebidanan pada Ny. M yang mengalami bendungan ASI melalui pendekatan edukatif dan tindakan nonfarmakologis. Metode pelaksanaan dilakukan selama tiga hari berturut-turut di PMB Hj. Winalti, SST, dengan langkah-langkah berupa edukasi mengenai bendungan ASI, pelatihan teknik menyusui yang benar, serta penerapan pijat payudara. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya perbaikan signifikan pada kondisi ibu. Pada hari pertama, keluhan berupa nyeri dan tegang pada p ayudara mulai berkurang setelah tindakan pijat. Hari kedua, ASI mulai mengalir lebih lancar dan ibu mulai mampu melakukan pijat secara mandiri. Hari ketiga, bendungan ASI teratasi, ibu menyusui dengan nyaman, dan mampu melakukan pijat serta menyusui dengan teknik yang benar. Evaluasi menunjukkan peningkatan skor pengetahuan dari kategori "kurang" (skor 40) menjadi "baik" (skor 100). Asuhan kebidanan ini terbukti efektif dalam menangani bendungan ASI dan meningkatkan kemandirian ibu dalam menyusui, sehingga dapat dijadikan pendekatan nonfarmakologis yang aplikatif dalam pelayanan kebidanan masa nifas.
Breast engorgement is a common problem during the postpartum period that occurs due to suboptimal milk release, causing pain, swelling, and tension in the breasts. According to WHO (2019) approximately 87.05% of postpartum mothers in America experience breast engorgement. In Indonesia, the coverage of exclusive breastfeeding in 2023 reached 63.9%, but in Riau province it only reached 44.5%, still below the national target of 50% .This case study aims to provide midwifery care to Mrs. M who experienced breast engorgement through an educational approach and non-pharmacological measures. The implementation method was carried out for three consecutive days at PMB Hj. Winalti, SST, with steps in the form of education about breast engorgement, training in correct breastfeeding techniques, and the application of breast massage. The results of the implementation showed a significant improvement in the mother's condition. On the first day, complaints of pain and tension in the breasts began to decrease after the massage. On the second day, breast milk began to flow more smoothly and the mother began to be able to massage independently. On the third day, breast milk engorgement resolved, the mother breastfed comfortably, and was able to massage and breastfeed using the correct technique. The evaluation showed an increase in knowledge scores from "poor" (score 40) to "good" (score 100). This midwifery care has proven effective in managing breast milk engorgement and increasing maternal independence in breastfeeding, making it an applicable non- pharmacological approach in postpartum midwifery care.