Asuhan Keperawatan Penerapan Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Pada Pasien Resiko Perilaku Kekerasan Di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau
Quick Access
Institutional Metadata
Abstract
Resiko perilaku kekerasan merupakan hal yang dapat membahayakan secara fisik, emosi dan seksual pada diri sendiri ataupun orang lain. Salah satu strategi pelaksanaan yang diajarkan untuk mengontrol emosi pada pasien resiko perilaku kekerasan adalah terapi relaksasi otot progresif. Terapi relaksasi otot progresif adalah suatu terapi yang memusatkan perhatian pada suatu aktivitas otot dengan mengidentifikasi otot yang tegang. Terapi relaksasi otot progresif adalah salah satu contoh terapi yang dapat diajarkan kepada pasien resiko perilaku kekerasan. Pelaksanaan intervensi ini dilakukan di Ruangan Indragiri Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau, dari hasil wawancara dengan perawat ruangan terapi ini belum pernah dilakukan diruangan. Terapi ini dilakukan pada 2 orang pasien yang masih mengalami resiko perilaku kekerasan, terapi ini melakukan 14 gerakan terapi relaksasi otot progresif yang dilakukan selama 7 kali pertemuan. Kendala dalam pemberian intervensi ini mood pasien sehingga mempengaruhi tingkat fokus. Hasil intervensi ini menunjukkan terjadinya penurunan tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan pada Ny.A sebelum dilakukan intervensi didapatkan skor 30 setelah dilakukan intervensi didapatkan skor 15. Pada Nn.N didapatkan skor sebelum intervensi 37 setelah dilakukan intervensi skor menurun menjadi 14.
The risk of violent behavior is something that can cause physical, emotional and sexual harm to youreself or other. One of the implementation strategies taught to control emotions in patients at risk of violent behavior is progressive muscle relaxation therapy. Progressive muscle relaxation therapy is a therapy that focuses attention on muscle activity by identifying tense muscles. Progressive muscle relaxation therapy is an example of therapy that can be taught to patients at risk of violent behavior. The implementation of this intervention was carried out in the Indragiri Room at the Tampan Mental Hospital, Riau Province. Based on the results of interviews with nurses, this therapy room had never been carried out in this room. This therapy was carried out on 2 patients who were still at risk of violent behavior. This therapy carried out 14 progressive muscle relaxation therapy movements which were carried out over 7 meetings. The obstacle in providing this intervention is the patient’s mood, which affects the level of focus. The results of this intervention showed a decrease in signs and symptoms of the risk of violent behavior in Mrs.