FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KELURAHAN SUNGAI PASIR TAHUN 2026
Institutional Metadata
Abstract
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat. Kecamatan Meral merupakan wilayah dengan kasus DBD tertinggi di Kabupaten Karimun pada tahun 2025, yaitu 122 kasus, dengan Kelurahan Sungai Pasir sebagai wilayah dengan kasus tertinggi sebanyak 40 kasus. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan pendapatan dengan kejadian DBD di Kelurahan Sungai Pasir Tahun 2026. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel 83 responden yang dipilih menggunakan teknik non-probability sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 83 responden, sebanyak 22 orang (26,5%) mengalami kejadian DBD dan 61 orang (73,5%) tidak mengalami kejadian DBD. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian DBD (p = 0,000), sikap dengan kejadian DBD (p = 0,000), dan pendapatan dengan kejadian DBD (p = 0,001). Responden dengan pengetahuan kurang memiliki proporsi kejadian DBD sebesar 70,8%, sedangkan responden dengan pengetahuan baik sebesar 2,6%. Seluruh kasus DBD ditemukan pada kelompok dengan sikap negatif. Responden dengan pendapatan di bawah UMR memiliki risiko 5,898 kali mengalami DBD dibandingkan responden dengan pendapatan di atas UMR (95% CI: 2,046–17,002). Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan, sikap, dan pendapatan dengan kejadian DBD di Kelurahan Sungai Pasir Tahun 2026.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains one of the public health problems. Meral Subdistrict was the area with the highest number of DHF cases in Karimun Regency in 2025, namely 122 cases, with Sungai Pasir Village recording the highest number of cases at 40. This study aimed to determine the relationship between knowledge, attitude, and income with the incidence of DHF in Sungai Pasir Village in 2026. The study used a cross-sectional design with a sample of 83 respondents selected using a non-probability sampling technique. Data were collected using a questionnaire. Data analysis was conducted univariately and bivariately using the Chi-Square test with a significance level of α = 0.05. The results showed that of the 83 respondents, 22 people (26.5%) experienced DHF and 61 people (73.5%) did not. The Chi-Square test results showed a significant relationship between knowledge and the incidence of DHF (p = 0.000), attitude and the incidence of DHF (p = 0.000), and income and the incidence of DHF (p = 0.001). Respondents with poor knowledge had a DHF incidence proportion of 70.8%, while respondents with good knowledge had a proportion of 2.6%. All DHF cases were found in the group with a negative attitude. Respondents with an income below the regional minimum wage (UMR) had a 5.898 times higher risk of experiencing DHF compared to respondents with an income above the UMR (95% CI: 2.046-17.002). The study concludes that there is a significant relationship between knowledge, attitude, and income with the incidence of DHF in Sungai Pasir Village in 2026.