Pemberdayaan Kader Santri Tanggap Bencana (SIGAB) Sebagai Upaya Peningkatan Penanggulangan Bencana Berbasis Komunitas Di Pondok Modern Al-Kautsar
Quick Access
Institutional Metadata
Abstract
Indonesia secara geografis merupakan wilayah sangat rentan terhadap bencana, baik hidroklimatilogis maupun geologis. Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sepanjang tahun 2022 telah terjadi bencana sebanyak 3.531 bencana di Indonesia, 43% diantaranya adalah bencana banjir, 30% cuaca ekstrem, dan 18% tanah longsor. Saat terjadi bencana masalah mendasar yang muncul adalah ketidaksiapan masyarakat dalam mengatasinya. Propinsi Riau khususnya Kota Pekanbaru termasuk wilayah dengan indeks ancaman bencana yang tinggi pada bahaya banjir bandang, cuaca ekstrim, kebakaran hutan dan lahan serta tanah longsor. Besarnya potensi bencana ini menuntut perlunya siswa dibekali kesiapan kebencanaan yang berkelanjutan. Pendidikan berperan penting dalam pengurangan risiko bencana. Pondok pesantren termasuk satuan pendidikan non siaga bencana yang belum memasukkan pendidikan kebencanaan dalam kurikulumnya. Selain itu, lokasiPondok Modern Al-Kausar terletak pada kelurahan Bencah Lesung dengan konturalam perbukitan dan riwayat terjadinya bencana longsor dan banjir tahunan. Kelurahan Bencah Lesung sendiri merupakan salah satu kelurahan dengan kejadian bencana banjir dan longsor di tahun 2023. Berdasarkan hasil kajian situasi didapatkan beberapa masalah antara lain 1) Tingginya kerentanan Pondok Modern Al-Kausar terhadap bencana Hidrometeorologi; 2) Belum optimalnya pelaksanaan UKS dalam mengatasi masalah kesehatan diri dan lingkungan; 3) Tidak adanya keterampilan pemanfaatan teknologi untuk kebencanaan yang dimiliki para santri. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesiapsiagaansantri dalam menghadapi bencana dengan membentuk kader SIGAB. Fokus pengabdian ini yaitu pemberdayaan berbasis masyarakat dimana santri sebagai kader dalam upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas sekolah. Tujuan lainnya mengoptimalkan fungsi UKS dalam upaya peningkatan PHBS santri dan juga meningkatkan keterampilan santri dalam pemanfaatan teknologi berbasis kebencanaan. Luaran yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah tercapainya peningkatan pengetahuan mitra kategori baik > 75%, publikasi jurnal nasional ber ISSN, publikasi media massa cetak, dan publikasi video pelaksanaan kegiatan. Kegiatan ini mengimplementasikan program MBKM yakni mengacu pada IKU 2, 3, dan 5.
Indonesia secara geografis merupakan wilayah sangat rentan terhadap bencana, baik hidroklimatilogis maupun geologis. Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sepanjang tahun 2022 telah terjadi bencana sebanyak 3.531 bencana di Indonesia, 43% diantaranya adalah bencana banjir, 30% cuaca ekstrem, dan 18% tanah longsor. Saat terjadi bencana masalah mendasar yang muncul adalah ketidaksiapan masyarakat dalam mengatasinya. Propinsi Riau khususnya Kota Pekanbaru termasuk wilayah dengan indeks ancaman bencana yang tinggi pada bahaya banjir bandang, cuaca ekstrim, kebakaran hutan dan lahan serta tanah longsor. Besarnya potensi bencana ini menuntut perlunya siswa dibekali kesiapan kebencanaan yang berkelanjutan. Pendidikan berperan penting dalam pengurangan risiko bencana. Pondok pesantren termasuk satuan pendidikan non siaga bencana yang belum memasukkan pendidikan kebencanaan dalam kurikulumnya. Selain itu, lokasiPondok Modern Al-Kausar terletak pada kelurahan Bencah Lesung dengan konturalam perbukitan dan riwayat terjadinya bencana longsor dan banjir tahunan. Kelurahan Bencah Lesung sendiri merupakan salah satu kelurahan dengan kejadian bencana banjir dan longsor di tahun 2023. Berdasarkan hasil kajian situasi didapatkan beberapa masalah antara lain 1) Tingginya kerentanan Pondok Modern Al-Kausar terhadap bencana Hidrometeorologi; 2) Belum optimalnya pelaksanaan UKS dalam mengatasi masalah kesehatan diri dan lingkungan; 3) Tidak adanya keterampilan pemanfaatan teknologi untuk kebencanaan yang dimiliki para santri. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesiapsiagaansantri dalam menghadapi bencana dengan membentuk kader SIGAB. Fokus pengabdian ini yaitu pemberdayaan berbasis masyarakat dimana santri sebagai kader dalam upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas sekolah. Tujuan lainnya mengoptimalkan fungsi UKS dalam upaya peningkatan PHBS santri dan juga meningkatkan keterampilan santri dalam pemanfaatan teknologi berbasis kebencanaan. Luaran yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah tercapainya peningkatan pengetahuan mitra kategori baik > 75%, publikasi jurnal nasional ber ISSN, publikasi media massa cetak, dan publikasi video pelaksanaan kegiatan. Kegiatan ini mengimplementasikan program MBKM yakni mengacu pada IKU 2, 3, dan 5.