Pengaruh Storytelling Terhadap Kemandirian Anak Dalam Melakukan Toilet training Di TK Antika Kids Pekanbaru
Quick Access
Institutional Metadata
Abstract
A. Latar Belakang Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah pada masa balita akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita, perkembangan anak meliputi kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran emosional (takut, cemas, marah, perasaan ingin tahu) dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral serta dasar- dasar kepribadian juga dibentuk pada masa ini (Saputri et al., 2021) Pertumbuhan adalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu yang bisa diukur dalam satuan sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dasar struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan, pertumbuhan (Saputri, 2021). Skrining perkembangan untuk mendeteksi dini pada setiap anak penting dilakukan terutama pada anak agar ditemukan kecurigaan penyimpangan perkembangan agar dapat segera dilakukan intervensi dini sebelum terjadi kelainan. Intervensi pada anak dengan kecurigaan penyimpangan perkembangan sebaiknya dilakukan sebelum anak berusia lebih dari 3 tahun (Saputri, 2021). Tumbuh kembang pada pada masa balita merupakan periode penting yang mempengaruhi tumbuh kembang anak pada selanjutnya. Seperti kemampuan berbahasa pada anak, kreativitas pada anak, kedasaran sosial emosional pada anak. Dalam teori perkembangan bahwa pada anak toddler memasuki tahap anal ditandai dengan berkembangnya kepuasan (kateksis), ketidak puasan (antikateksis) disekitar fungsi eliminasi pada anak (Devita Yeni & Sitorus, 2021). Di Amerika Serikat pada usia 24 bulan ada sebanyak 26% balita mengalami permasalahan dalam mengompol, pada usia 30 bulan ada 1 2 sebanyak 88% dan 98% pada usia 36 bulan. Singapura melaporkan ada 15% anak yang usianya 5 tahun masih tetap mengompol. Sementara di Inggris ada 1,3% anak laki dan 0,3% % anak perempuan yang mempunyai kebiasaan untuk buang air besar dan buang air kecil di sembarang tempat sampai pada usia 7 tahun (Utami, 2020). Data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2018) di Indonesia diperkiran jumlah anak balita 0-4 tahun yaitu 23.729.583 jiwa. Pada tahun 2014 anak usia toddler (1-3 tahun) sebanyak 123 anak. Menurut survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) nasional. Diperkirakan jumlah balita yang susah mengontrol BAB dan BAK diusia sampai pra-sekolah mencapai 75 juta anak. Anak yang berhasil menjalankan toileting 25% dan 75% gagal dalam menjalankan toileting. Anak usia pra sekolah (4 -5 tahun) anak yang berhasil menjalankan toileting 40% dan 60% gagal menjalankan toileting (Kameliawati, 2020). Pada anak usia toodler mengalami 3 fase yaitu fase autonomi (Anak dapat dapat mengambil inisiatif dari diri sendiri dan anak mampu melakukannya sendiri, namun anak pada menujukan keinginannya sendiri menolak sesuatu yang anak tidak kehendaki dan anak mencoba sesuatu yang anak inginkan), fase Anal (anak memasuki masa toilet training). Dan anak memasuki fase Praopresional (Anak mulai membuat penilaian sederhana terhadap kejadian yang terjadi disekitar anak) (Khoiruzzadi & Fajriyah, 2019). Toilet training merupakan upaya yang dilakukan untuk melatih kemandirian anak untuk mengontrol buang air besar dan buang air kecil dengan benar. Pelatihan toilet training tidak ada Batasan waktu, untuk melatih toilet training, orang tua dapat melihati dari kesiapan fisik dan kesiapan mental. Mengontrol BAB dan BAK dengan Kebiasaan yang salah membuat anak menjadi manja, tidak disiplin, dapat mengalami masalah psikologi. Manfaat Toilet training pada anak adalah menjadi awal terbentuknya kemandirian anak secara nyata karenan anak sudah bisa untuk melakukan hal-hal kecil seperti BAB dan BAK. Selain itu anak juga akan mengetahui bagian-bagian tubuh serta fungsinya (Di et al., 2021)3 Salah satu yang mempengaruhi keberhasilan toilet training adalah pengetahuan ibu. Pengetahuan ini sebagai dasar bagi ibu kapan harus memulai yang digunakan untuk melatih anak untuk buang air besar atau kecil. Pengetahuan yang baik akan meningkatkan sikap positif bagi ibu terhadap konsep toilet training sehingga ibu dapat dikatakan siap dalam menerapkan toilet training pada anak. Penjelasan yang baik dari orang tua dan mudah dipahami akan mempengaruhi keberhasilan orang tua dalam mengajarkan toilet training pada anak (Tyas, 2021). Kegagalan toilet training dapat terjadi karena adanya perlakuan atau aturan orangtua yang ketat terhadap anaknya sehingga akan mengganggu kepribadian anak dan cenderung bersikap keras kepala. toilet training menjadi aspek penting dalam perkembangan anak pada usia toddler dan harus mendapat perhatian orang tua dalam buang air kecil maupun buang air besar. Toilet training menjadi proses awal terbentuknya kemandirian anak (Susanty, 2021). Storytelling merupakan salah satu metode yang di sukai anak-anak. storytelling adalah kegiatan menyampaikan cerita dari seorang Storyteller kepada pendengar dengan tujuan memberikan informasi bagi pendengar sehingga dapat digunakan untuk mengenali emosi dirinya sendiri dan orang lain, serta mampu melakukan problem solving. Storytelling disampaikan tanpa menggunakan alat peraga, namun dengan mengandalkan kualitas vocal, mimik wajah, gerakan tangan serta tubuh (Salsabila, 2021). Metode storytelling adalah salah satu cara distraksi untuk mengurangi kecemasan. storytelling yaitu kegiatan bercerita melalui kata-kata, suara, gambar. Cerita menggambarkan model yang mengajarkan nilai dan kemampuan. Storytelling bertujuan untuk membantu anak mengekspresikan emosinya terhadap perubahan hidup dalam lingkungan yang nyaman, juga untuk membuka kekuatan dalam dirinya sehingga dapat meningkatkan resiliensi dalam hidupnya. Terbukti terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kecemasan anak usia prasekolah sebelum dan sesudah diberikan Tindakan storytelling karena storytelling memberi sugesti kepada anak untuk rileks dan terlarut dalam cerita sehingga dapat menurunkan tingkat kecemasan pada anak (Legi, 2019). 4 Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada orang tua dan guru di Tk Antika Kids, Menyatakan bahwa 7 orang tua anak mengatakan bahwa anaknya belum bisa melakukan Toilet training dengan sendirinya. Dari uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Storytelling terhadap kemandirian anak dalam melakukan Toilet training di TK Antika Kids Pekanbaru” B. Rumusan masalah Pada Tumbuh kembang pada masabalita merupakan periode yang mempengaruhi tumbuh kembang anak pada selanjutnya. Seperti kemampuan berbahasa pada anak, kreativitas pada anak, kedasaran sosial emosional pada anak. Toilet training merupakan upaya yang dilakukan untuk melatihi kemandirian anak untuk mengontrol buang air besar dan buang air kecil dengani benar. Pelatihan toilet training tidak ada batasan waktu, untuk melatih toilet training, orang tuai dapat melihati dari kesiapani fisik dan kesiapan mental. Mengontrol BAB dan BAK dengan Kebiasaan yang salah membuat anak menjadi manja, tidak disiplin, dapat mengalami masalah psikologi. storyTelling merupakan salah satu metode yang di sukai anak-anak. storytelling adalah kegiatan menyampaikan cerita dari seorang storyteller kepada pendengar dengan tujuan memberikan informasi bagi pendengar sehingga dapat digunakan untuk mengenali emosi dirinya sendiri dan orang lain. Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan diangkat peniliti yaitu apakah ada “Pengaruh Storytelling terhadap kemandirian anak dalam melakukan Toilet training” C. Tujuan penilitian 1. Tujuan umum Mengetahui pengaruh Storytelling terhadap kemandirian anak dalam melakukan Toilet Training 5 2. Tujuan khusus Adapun tujuan khusus penilitian ini, yaitu: a. Mengidentifikasi distribusi frekuensi responden berdasarkan usia dan jenis kelamin, dan pekerjaan orang tua. b. Mengidentifikasi tingkat kemandirian responden sebelum diberikan storytelling c. Mengidentifikasi tingkat kemandirian responden sesudah diberikan storytelling d. Menganalisis perbedaan tingkat kemandirian responden dalam melakukan toilet training sebelum dan sesudah dilakukan storytelling D. Manfaat Penelitian 1. Bagi tempat penilitian Hasil penelitian ini dijadikan sebagai informasi mengenai pengaruh Story telling terhadap kemandirian anak dalam melakukan Toilet training di TK Antika Kids Pekanbaru 2. Bagi responden Diharapkan responden mengetahui dan mampu menerapkan, memperlihatkan kemandiriannya dalam melakukan Toilet training dirumah dan di TK Antika Kids Pekanbaru 3. Bagi peniliti selanjutnya Memberikan evidence based tentang pengaruh Storytelling terhadap kemandirian anak dalam melakukan Toilet training serta dapat dijadikan sebagai referensi dan dasar bagi penelitian selanjutnya yang membahas topik yang sama.
A. Latar Belakang Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah pada masa balita akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita, perkembangan anak meliputi kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran emosional (takut, cemas, marah, perasaan ingin tahu) dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral serta dasar- dasar kepribadian juga dibentuk pada masa ini (Saputri et al., 2021) Pertumbuhan adalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu yang bisa diukur dalam satuan sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dasar struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan, pertumbuhan (Saputri, 2021). Skrining perkembangan untuk mendeteksi dini pada setiap anak penting dilakukan terutama pada anak agar ditemukan kecurigaan penyimpangan perkembangan agar dapat segera dilakukan intervensi dini sebelum terjadi kelainan. Intervensi pada anak dengan kecurigaan penyimpangan perkembangan sebaiknya dilakukan sebelum anak berusia lebih dari 3 tahun (Saputri, 2021). Tumbuh kembang pada pada masa balita merupakan periode penting yang mempengaruhi tumbuh kembang anak pada selanjutnya. Seperti kemampuan berbahasa pada anak, kreativitas pada anak, kedasaran sosial emosional pada anak. Dalam teori perkembangan bahwa pada anak toddler memasuki tahap anal ditandai dengan berkembangnya kepuasan (kateksis), ketidak puasan (antikateksis) disekitar fungsi eliminasi pada anak (Devita Yeni & Sitorus, 2021). Di Amerika Serikat pada usia 24 bulan ada sebanyak 26% balita mengalami permasalahan dalam mengompol, pada usia 30 bulan ada 1 2 sebanyak 88% dan 98% pada usia 36 bulan. Singapura melaporkan ada 15% anak yang usianya 5 tahun masih tetap mengompol. Sementara di Inggris ada 1,3% anak laki dan 0,3% % anak perempuan yang mempunyai kebiasaan untuk buang air besar dan buang air kecil di sembarang tempat sampai pada usia 7 tahun (Utami, 2020). Data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2018) di Indonesia diperkiran jumlah anak balita 0-4 tahun yaitu 23.729.583 jiwa. Pada tahun 2014 anak usia toddler (1-3 tahun) sebanyak 123 anak. Menurut survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) nasional. Diperkirakan jumlah balita yang susah mengontrol BAB dan BAK diusia sampai pra-sekolah mencapai 75 juta anak. Anak yang berhasil menjalankan toileting 25% dan 75% gagal dalam menjalankan toileting. Anak usia pra sekolah (4 -5 tahun) anak yang berhasil menjalankan toileting 40% dan 60% gagal menjalankan toileting (Kameliawati, 2020). Pada anak usia toodler mengalami 3 fase yaitu fase autonomi (Anak dapat dapat mengambil inisiatif dari diri sendiri dan anak mampu melakukannya sendiri, namun anak pada menujukan keinginannya sendiri menolak sesuatu yang anak tidak kehendaki dan anak mencoba sesuatu yang anak inginkan), fase Anal (anak memasuki masa toilet training). Dan anak memasuki fase Praopresional (Anak mulai membuat penilaian sederhana terhadap kejadian yang terjadi disekitar anak) (Khoiruzzadi & Fajriyah, 2019). Toilet training merupakan upaya yang dilakukan untuk melatih kemandirian anak untuk mengontrol buang air besar dan buang air kecil dengan benar. Pelatihan toilet training tidak ada Batasan waktu, untuk melatih toilet training, orang tua dapat melihati dari kesiapan fisik dan kesiapan mental. Mengontrol BAB dan BAK dengan Kebiasaan yang salah membuat anak menjadi manja, tidak disiplin, dapat mengalami masalah psikologi. Manfaat Toilet training pada anak adalah menjadi awal terbentuknya kemandirian anak secara nyata karenan anak sudah bisa untuk melakukan hal-hal kecil seperti BAB dan BAK. Selain itu anak juga akan mengetahui bagian-bagian tubuh serta fungsinya (Di et al., 2021)3 Salah satu yang mempengaruhi keberhasilan toilet training adalah pengetahuan ibu. Pengetahuan ini sebagai dasar bagi ibu kapan harus memulai yang digunakan untuk melatih anak untuk buang air besar atau kecil. Pengetahuan yang baik akan meningkatkan sikap positif bagi ibu terhadap konsep toilet training sehingga ibu dapat dikatakan siap dalam menerapkan toilet training pada anak. Penjelasan yang baik dari orang tua dan mudah dipahami akan mempengaruhi keberhasilan orang tua dalam mengajarkan toilet training pada anak (Tyas, 2021). Kegagalan toilet training dapat terjadi karena adanya perlakuan atau aturan orangtua yang ketat terhadap anaknya sehingga akan mengganggu kepribadian anak dan cenderung bersikap keras kepala. toilet training menjadi aspek penting dalam perkembangan anak pada usia toddler dan harus mendapat perhatian orang tua dalam buang air kecil maupun buang air besar. Toilet training menjadi proses awal terbentuknya kemandirian anak (Susanty, 2021). Storytelling merupakan salah satu metode yang di sukai anak-anak. storytelling adalah kegiatan menyampaikan cerita dari seorang Storyteller kepada pendengar dengan tujuan memberikan informasi bagi pendengar sehingga dapat digunakan untuk mengenali emosi dirinya sendiri dan orang lain, serta mampu melakukan problem solving. Storytelling disampaikan tanpa menggunakan alat peraga, namun dengan mengandalkan kualitas vocal, mimik wajah, gerakan tangan serta tubuh (Salsabila, 2021). Metode storytelling adalah salah satu cara distraksi untuk mengurangi kecemasan. storytelling yaitu kegiatan bercerita melalui kata-kata, suara, gambar. Cerita menggambarkan model yang mengajarkan nilai dan kemampuan. Storytelling bertujuan untuk membantu anak mengekspresikan emosinya terhadap perubahan hidup dalam lingkungan yang nyaman, juga untuk membuka kekuatan dalam dirinya sehingga dapat meningkatkan resiliensi dalam hidupnya. Terbukti terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kecemasan anak usia prasekolah sebelum dan sesudah diberikan Tindakan storytelling karena storytelling memberi sugesti kepada anak untuk rileks dan terlarut dalam cerita sehingga dapat menurunkan tingkat kecemasan pada anak (Legi, 2019). 4 Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada orang tua dan guru di Tk Antika Kids, Menyatakan bahwa 7 orang tua anak mengatakan bahwa anaknya belum bisa melakukan Toilet training dengan sendirinya. Dari uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Storytelling terhadap kemandirian anak dalam melakukan Toilet training di TK Antika Kids Pekanbaru” B. Rumusan masalah Pada Tumbuh kembang pada masabalita merupakan periode yang mempengaruhi tumbuh kembang anak pada selanjutnya. Seperti kemampuan berbahasa pada anak, kreativitas pada anak, kedasaran sosial emosional pada anak. Toilet training merupakan upaya yang dilakukan untuk melatihi kemandirian anak untuk mengontrol buang air besar dan buang air kecil dengani benar. Pelatihan toilet training tidak ada batasan waktu, untuk melatih toilet training, orang tuai dapat melihati dari kesiapani fisik dan kesiapan mental. Mengontrol BAB dan BAK dengan Kebiasaan yang salah membuat anak menjadi manja, tidak disiplin, dapat mengalami masalah psikologi. storyTelling merupakan salah satu metode yang di sukai anak-anak. storytelling adalah kegiatan menyampaikan cerita dari seorang storyteller kepada pendengar dengan tujuan memberikan informasi bagi pendengar sehingga dapat digunakan untuk mengenali emosi dirinya sendiri dan orang lain. Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan diangkat peniliti yaitu apakah ada “Pengaruh Storytelling terhadap kemandirian anak dalam melakukan Toilet training” C. Tujuan penilitian 1. Tujuan umum Mengetahui pengaruh Storytelling terhadap kemandirian anak dalam melakukan Toilet Training 5 2. Tujuan khusus Adapun tujuan khusus penilitian ini, yaitu: a. Mengidentifikasi distribusi frekuensi responden berdasarkan usia dan jenis kelamin, dan pekerjaan orang tua. b. Mengidentifikasi tingkat kemandirian responden sebelum diberikan storytelling c. Mengidentifikasi tingkat kemandirian responden sesudah diberikan storytelling d. Menganalisis perbedaan tingkat kemandirian responden dalam melakukan toilet training sebelum dan sesudah dilakukan storytelling D. Manfaat Penelitian 1. Bagi tempat penilitian Hasil penelitian ini dijadikan sebagai informasi mengenai pengaruh Story telling terhadap kemandirian anak dalam melakukan Toilet training di TK Antika Kids Pekanbaru 2. Bagi responden Diharapkan responden mengetahui dan mampu menerapkan, memperlihatkan kemandiriannya dalam melakukan Toilet training dirumah dan di TK Antika Kids Pekanbaru 3. Bagi peniliti selanjutnya Memberikan evidence based tentang pengaruh Storytelling terhadap kemandirian anak dalam melakukan Toilet training serta dapat dijadikan sebagai referensi dan dasar bagi penelitian selanjutnya yang membahas topik yang sama.