Pengaruh terapi napas dalam terhadap tingkat kecemasan pada pasien kemoterapi kanker servik di ruangan teratai RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau
Quick Access
Institutional Metadata
Abstract
Secara global, kanker serviks merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada wanita dan tetap menjadi penyebab kematian tertinggi di banyak negara berkembang. World Health Organization (2020) melaporkan bahwa kanker serviks menempati urutan keempat kanker tersering pada perempuan secara global dengan lebih dari 604.000 kasus baru dan 342.000 kematian setiap tahunnya. Angka ini menunjukkan bahwa beban kanker serviks masih sangat tinggi, terutama di negara dengan akses deteksi dini yang rendah. Selain berdampak pada mortalitas, kanker serviks juga menimbulkan beban emosional dan psikologis yang signifikan, terutama kecemasan yang muncul selama proses diagnosis dan pengobatan (WHO, 2020). Di tingkat nasional, kanker serviks merupakan kanker nomor dua terbanyak pada perempuan di Indonesia setelah kanker payudara. Berdasarkan data Globocan (2021), tercatat 36.633 kasus baru kanker serviks dengan angka kematian mencapai 21.003 jiwa pada tahun tersebut. Peningkatan kasus ini dipengaruhi oleh rendahnya cakupan skrining IVA dan pap smear, serta keterlambatan penyediaan layanan deteksi dini. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pengelolaan kanker secara klinis, tetapi juga menimbulkan masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan terhadap pengobatan, dan stres emosional pada pasien (Oktarini & Prima, 2021).
Secara global, kanker serviks merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada wanita dan tetap menjadi penyebab kematian tertinggi di banyak negara berkembang. World Health Organization (2020) melaporkan bahwa kanker serviks menempati urutan keempat kanker tersering pada perempuan secara global dengan lebih dari 604.000 kasus baru dan 342.000 kematian setiap tahunnya. Angka ini menunjukkan bahwa beban kanker serviks masih sangat tinggi, terutama di negara dengan akses deteksi dini yang rendah. Selain berdampak pada mortalitas, kanker serviks juga menimbulkan beban emosional dan psikologis yang signifikan, terutama kecemasan yang muncul selama proses diagnosis dan pengobatan (WHO, 2020). Di tingkat nasional, kanker serviks merupakan kanker nomor dua terbanyak pada perempuan di Indonesia setelah kanker payudara. Berdasarkan data Globocan (2021), tercatat 36.633 kasus baru kanker serviks dengan angka kematian mencapai 21.003 jiwa pada tahun tersebut. Peningkatan kasus ini dipengaruhi oleh rendahnya cakupan skrining IVA dan pap smear, serta keterlambatan penyediaan layanan deteksi dini. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pengelolaan kanker secara klinis, tetapi juga menimbulkan masalah psikologis seperti kecemasan, ketakutan terhadap pengobatan, dan stres emosional pada pasien (Oktarini & Prima, 2021).